Selasa, 27 Desember 2011

belajar membuat puisi dari foto

Saya penyuka gambar-gambar dan tentu saja pecinta kata-kata. Seringkali saya menghabiskan begitu banyak waktu di internet, mengunjungi tempat-tempat yang memiliki gambar-gambar bagus.

Saya tidak lihai menggambar. Saya tidak punya kamera untuk mengambil gambar. Namun saya yakin kata-kata punya kemampuan melakukannya–meski tentu saja hasilnya berbeda.

Berikut ini saya membuat sejumlah puisi dari sejumlah foto hasil karya seorang fotografer ternama Amerika, Jamie Baldridge.

Saya membuat 23 puisi dari foto Jamie. Keseluruhannya menjadi satu rangkaian ‘cerita’ tentang kisah cinta ibu dan ayah saya. Saya memberinya judul Masalah Masa Lalu: Catatan dari Masa Depan Ayahku. Berikut ini 4 di antaranya. Empat puisi ini pernah dimuat di Kompas, 30 Agustus 2009 di bawah judul Sajak-Sajak yang Lahir dari Foto Jamie Baldridge. Sebenarnya bukan hanya 4 judul yang pernah dimuat Kompas, namun akan terlalu panjang kalau saya pajang semuanya di sini.


Masing-masing foto menghasilkan puisi di bawahnya. Begitulah saya belajar menulis puisi dari foto. Jika ingin belajar juga, selamat mencoba.


Call to Journey

Sepasang belalai memanjang dari telingaku
selalu ingin mengecup semua yang kau ucap

agar kecupan melumpuhkan liar kata-katamu,
menjadikan mereka bangkai, lalu memasung
atau memasangnya di aneka ukuran bingkai.

Mengapa melulu kapal-kapal yang berlepasan
dari bibirmu yang tak menyerupai dermaga itu?

Tidak! Layar-layar tak akan membawa kata-katamu
ke pulau manapun selain ke sepasang mata tuaku
yang rabun (yang akan bertahan hingga habis tahun)

Mataku adalah laut yang akan menenggelamkan
tubuhmu dan bangkai kata-kata kelak mengganti
bunga-bunga yang ditaburkan siapapun yang masih
sudi tangannya dinodai warna coklatsepi kesedihan

Dainty Phyletic

Gulung awan tak jauh di atas gelung rambutmu bak kelopak
bunga yang entah mengapa berwarna tanah dan menangis

dan menciptakan ombak dengan lidah terus berbiak banyak
juga mencipratkan putih buih yang nampak tak pernah habis

Itukah yang membuat sepasang rapuh tangkai tungkai tidak
mampu mempertahankan tabahmu yang semakin menipis?

Maka kaki-kaki lengkung payung yang tidak memiliki telapak
memilih hendak mempertuhankan tubuhmu, aduhai, Gadis!

Sementara aku dingin dinding kolam yang tak bisa bergerak
meski akan melihatmu perlahan ditelan air nyaris demi nyaris

Martyrdom St Tilden

Langit-langit mulutku dan lidahmu yang merah
tidak akan berpisah jika lollipop sebesar planet

Sementara mengenang lagi lollipop dan lidahmu
sama saja berbungkuk melapangkan punggung
dan Waktu menancapkan anak-anak panahnya.

Sudahlah. Aku tahu rasa sakit itu lembar-lembar
alat bayar agar aku bisa melumat lidah kenangan.

Jika aku menyebut kalimat, “Tolong kau cabut!”
kepalaku akan disambut satu topi pertanda tolol—
runcing namun hanya mampu menusuk angin.

Sebab kau di planet mana gerangan sekarang?

Tapi aku memang tolol meski tak pernah meminta
tolong lagi padamu. Sebab tak akan aku bendung
ingatan tentang lollipop dan lidahmu yang manis
yang di punggungku kini berubah jadi rasa sakit.

Sayang dinding terkelupas mengatakan kepadaku
Waktu ternyata punya usia, ternyata memiliki mati.

Kenangan betapa panjang sementara masa depan
sungguh-sungguh hanya seukuran juluran lidahmu.

Biar, biarlah lollipop sebesar planet itu terus menjilat
merah ingatan dan punggungku dipenuhi anak panah
hingga mayat Waktu dikubur dan aku tak mengingat

apa-apa lagi kecuali rasa sakit yang susah dicabut

Chaos Counter<$2Fstrong>

Kau hanya tertarik kepada bayangan yang dilekuk
lantai dan dinding, bayangan yang mau menjangkau
sepasang pigura berisi tubuh yang dilepaskan baju

Sebab kau selalu berpikir begitulah masa silam, tajam
serupa capit seekor kepiting raksasa yang bisa datang
darimana dan kapan saja; siang hari atau malam haru

Sementara gambar-gambar lainnya sekadar hambar
masa sekarang; setumpuk telur yang tak berisi apa,
lelaki yang terlalu rapi untuk sebuah ruang lengang,
atau meja yang telah berubah menjadi irigasi aneh
mengalirkan telur-telur kosong dan tak akan pecah

Kau hanya terpantik nyala bayangan yang ditekuk,
tak bisa menjangkau sepasang aku yang telanjang
yang pucat mayat membuat pigura serupa kubur
kaca, tembus pandang seperti akuarium yang tipis

di situ aku, masa lalu, jadi hantu—kau tak bisa kabur!

Tips:

  1. Cari gambar-gambar yang bisa memancing dan meliarkan imajinasi kamu.Sebaiknya jangan yang biasa-biasa saja, meskipun sebenarnya setiap gambar bisa jadi puisi.
  2. Jangan terjebak hanya memindahkan foto ke dalam kata-kata. Bayangkan puisi itu dinikmati tanpa orang perlu merujuk ke fotonya lagi. Ingat, kamu hanya meminjam foto itu sebagai alas. Kamu harus menciptakan karya kamu sendiri.

1 komentar: