Selasa, 25 Mei 2010

Kyai Abdussalam Tambakberas Jombang

Bagi pembaca yang pernah berziarah ke makam al-maghfurlah K.H. Abdul Wahab Chasbullah, inisiator, pendiri, dan penggerak Nahdlatul Ulama, tentu tahu bahwa di deret makam sebelah utara, lurus dengan makam Kyai Wahab, pojok paling barat, terdapat makam dengan bentuk bangunan paling tinggi. Itulah makam Kyai Abdussalam, seorang ulama dan juga seorang pendekar yang sekitar tahun 1825 membuka semak belukar untuk dijadikan lahan pemukiman. Kini pemukiman tersebut dikenal dengan sebutan Dusun Gedang, Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang.
 
Sebagai seorang ulama, kehadiran Abdussalam di samping membuka semak belukar menjadi perkampungan juga memiliki misi untuk mengembangkan agama Islam di daerah yang ia tinggali. Mula-mula ia mendirikan sebuah langgar sederhana dan membangun 3 kamar untuk tempat   istirahat para santri yang mengaji ilmu agama padanya. Langgar dan tiga kamar inilah yang kelak menjadi cikal bakal atau embrio berdirinya Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang yang kini (baca: 2010) memiliki santri tidak kurang dari 5.000 orang.

Di tengah ketenangan dan kedamaian suasana batin Abdussalam selepas menaklukkan semak dan mendidik santri, ternyata pihak penjajah, Belanda, merasa terancam. Belanda khawatir Abdussalam akan menghimpun kekuatan untuk menentangnya jika pesantrennya terus berkembang. Dari kekhawatiran ini Belanda berkali-kali mencoba memanggil Abdussalam. Namun, naluri sebagai seorang mantan pasukan perang Pangeran Diponegoro membuatnya tidak cepat merespon untuk memenuhi panggilan tersebut. Abdussalam tahu bahwa, jika memiliki keinginan, maka Belanda akan menggunakan berbagai cara, termasuk memanggil seseorang untuk berunding, yang ujung-ujung hanya untuk memantapkan  posisinya dalam menjajah negeri ini.

Dikisahkan, tiga kali Belanda mencoba memanggil Abdussalam. Pada panggilan pertama dan kedua pihak Belanda kembali dengan tangan hampa, yakni Abdussalam tidak mengindahkan panggilan tersebut. Mengingat sudah dua kali dipanggil dengan cara dibujuk “baik-baik” tidak mau datang,  Belanda menganggap Abdussalam telah membangkang dan menentang mereka. Karena itu pada pemanggilan ketiga Belanda memerintahkan utusannya agar mampu membawa Abdussalam menghadap dalam keadaan apapun. Jika tetap membangkang, maka harus dipaksa. Di pihak lain, Abdussalam juga sudah kesal karena merasa ketenangannya berdakwah telah diusik oleh Belanda.

Pada pemanggilan ketiga Belanda mengirim kurir yang gagah berani dengan mengendarai bendi. Sesuai dengan misi tugasnya untuk menghadirkan Abdussalam dalam keadaan apapun, kurir itu berkata kepada Abdussalam dengan kata-kata kasar dan memaksa. Abdussalam yang sudah kesal terhadap Belanda tersinggung lalu spontan membentak kurir tersebut, “Kurang ajar”, begitu kira-kira. Keajaiban terjadi, begitu kata-kata bentakan itu dilontarkan Abdussalam, kurir belanda itu langsung kelenger, mati bersama kuda yang membawanya.

Cerita tentang Abdussalam dan tewasnya kurir Belanda tersebut cepat tersebar ke masyarakat. Sejak saat itulah Abdussalam dijuluki oleh masyarakat dengan sebutan Shoichah, atau “Mbah Shoichah”, yang artinya bentakan. Kyai Abdussalam hingga kini tetap dikenal, dikenang, dan dihormati sebagai Pendiri Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.
 
Dari Abdussalam atau Mbah Shoichah dan istrinya, Nyai Muslimah, kelak melahirkan keturunan ulama-ulama besar seperti Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari (Pendiri dan Rais Akbar NU), K.H. Abdul Wahab Chasbullah (Pendiri dan Rais Am Pertama NU), K.H.  Abdul Wachid Hasyim (Tokoh NU dan Mantan Menteri Agama RI), K.H. Muhammad Wahib Wahab (Tokoh NU, Mantan Menteri Urusan Kerja Sama Sipil-Militer RI, dan Mantan Menteri Agama RI), K.H. Abdurrahman Wachid (Mantan Ketua Umum PBNU dan Mantan Presiden RI), dan  lain-lain. (faizun; diolah dari berbagai sumber)

sumber: www.mantambakberas.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar